Jumat, 17 Oktober 2014

JANGAN BIARKAN TERANG TERHALANG BENALU

“Semakin terang semakin jelas arah jalan yang ditempuh” begitulah kira-kira kalimat yang keluar dari mulut seorang ayah kepada buah hatinya ketika saya menghampiri beliau. Tubuh kurus dan status pekerjaan yang masih honorer disalah satu sekolah negeri, tidaklah ada tersirat dari raut wajahnya sedikitpun sifat pesimis untuk mengajari anaknya yang masih kecil memperkenalkan beberapa huruf arab yang tertempel didinding dan disebelahny abjad dari A-Z. Dan kebiasaan ini berlangsung hanya disiang hari saja. Padahal ilmu haruslah diulang agar tertancap mantap dihati. Malam hari sangatlah pas untuk mengulang pelajaran yang diajarkan disiang hari. Namun begitulah kenyataan yang dialami sang tenaga honorer. Keterbatasan penghasilan sangatlah membuat kebiasaan baik kadang harus ditunda dulu hingga terang menunjukkan jalan-jalan kebaikan. Pak zeid, begitulah sapaan yang akrab untuk beliau. Dengan modal keberanian, saya menanyakan hal-hal yang dianggap sepele, namun ianya merupakan hal yang sangat besar jika kita melihat dari hati yang paling bersih.”pak zeid”...apakah Bapak tidak merasa riasau dengan keadaan rumah dimalam hari yang gelap gulita tanpa penerangan dari PLN?....inilah pertanyaan yang saya lontarkan kepada Bapak yang sangat bersahaja. Dengan sedikit suara yang agak berat, beliau memaparkan ceritanya yang sangat panjang...” sebenarnya keinginan itu sudahlah teramat lama tersimpan dihati, namun dengan kondisi dan keadaan ekonomi yang sangat terbatas, tidaklah dapat merubah keadaan dari gelap menjadi terang dalam suasana malam hari dirumah. Orang seperti kita ini adalah orang yang hanya mengandalkan lilin atau lampu duduk dengan modal sumbu kompor, botol bekas dan minyak tanah secukupnya. Dan keadaan ini sangatlah mengingatkan kita kepada orang terdahulu kita yang hidup dizaman penjajahan. Mereka sangat tahan dengan keadaan yang demikian karena, mereka mempunyai cahaya yang bersinar terang dihati menandakan itulah kebersihan jiwa yang mereka wariskan kepada kita generasi sekarang ini..dengan kebersihan jiwa dan hati, bagaimanapun gelapnya rumah dan keadaan sekarang ini, InsyaAllah semua teratasi dengan arif dan bijaksana. Saya bukanlah oang yang berpegang dengan keadaan tidak ingin memiliki hanya mempertahankan tradisi ketidakmampuan. Saya menginginkan suatu manfaat yang memang itu sangatlah dibutuhkan bagi diri saya dan juga orang lain demi meraih kebaikan-kebaikan sebanyak-banyaknya. Contohnya penerangan dari PLN, sangatlah dibutuhkan, akan tetapi saat ini belumlah bisa mencapai target rupiah yang ditawarkan seorang karyawan PLN yang mematok harga pasang baru mencapai Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah(Rp. 3.500.000). dan belum lagi biaya yang tidak terduga saat pemasangannya. Sungguh inilah salah satu kerisauan yang selama ini saya pendam. Walaupun demikian, saya hanya bisa mengupat dalam hati dan mencoba menenangkan hati dengan kesabaran. Dan syukur Alahamdulillah PaK, saya telah menabungkan duit saya sedikit demi sedikit untuk menebus yang Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah tersebut. karena memang beginilah kenyataannya, berapa besarpun yang mereka tawarkan, saya mencoba bersabar karena penerangan sangatlah dibutuhkan. Saya sudah bisa membayangkan betapa syukur dan bahagianya jikalau dirumah saya sudah dipasang jaringan listrik dari PLN, saya membayangkan bisa mengaji,membaca dan mengajari anak saya pada malam hari. Dan anak saya tidak takut lagi saat pergi kekamar kecil atau tidak kaget lagi mengetahui ternyata ada kelabang yang menyusup kerumah saat hujan datang. Nak !...orang seperti kita ini masih banyak yang membutuhkan penerangan dari PLN. Dan dari informasi yang telah saya dengar dan lihat, mereka mengeluh karena mahalnya biaya pasang yang dibuat PLN. Memang benar itu hak mereka membuat harga pasang seberapa besar. Akan tetapi, anak bangsa yang menghargai bangsanya dan para leluhurnya, pastilah mengerti berapa banyak anak negeri ini yang membutuhkan penerangan itu” Begitulah cerita Pak zeid yang membuat saya terharu. Beliau tertunduk sesaat dan saat itu saya menyampaikan kepada Pak Zeid “bahwa Indonesia ini masih mempunyai putra-putri terbaik yang mengerti dengan keadaan orang-orang seperti kita. Mengurus Pasang Baru Listrik tidaklah memakai istilah calo lagi, karena kita butuh perubahan kearah yang baik, agar jalan-jalan kebaikan itu dapat kita lihat. Caranya sangatlah mudah. Kita bisa mendaftarkan Pelanggan Baru PLN secara online, maksudnya dengan jasa internet. Kita bisa mengunjungi warnet terdekat didaerah atau tempat tinggal kita. Berkorban Lima Ribu Rupiah pembayaran jasa warnetnya sangatlah wajar untuk hal yang paling besar manfaatnya untuk diri kita sendiri. Kemudian kita membuka http://www.pln.co.id/. Dan disitu ada Permohonan, Bapak bisa pilih sesuai kebutuhan kita. Misalnya Pak Zeid ingin Pasang Baru. Nah setelah kita memilih, kita diharuskan mengisi data-data yang penting untuk tindak lanjut berikutnya. Nah setelah selesai, maka kita membuka email kita yang didalamnya berupa balasan dari PLN untuk kebutuhan transaksi berikutnya antara kita dengan pihak PLN. Nah terobosan yang PLN buat ini Pak, ternyata sangat efisien menekan para calo PLN. Dan menjadikan PLN semakin bersih dan mempunyai wibawa yang patut dihargai oleh anak bangsa. Dan kita berharap Pak, terang yang telah PLN rintis,” tidaklah terhalang oleh benalu yang menutupi terangnya pijar-pijar kebaikan dari PLN”. Dan benalu-benalu itu adalah calo yang telah menghisap hak-hak warga untuk mendapatkan penerangan yang sepatutnya mereka miliki”. Setelah Bapak mempunyai jaringan listrik, Bapak bisa memasangkan internet dirumah dan melihat berita-berita yang Bapak butuhkan sebagai penambah ilmu dan pengetahuan Bapak. Dan saya menganjurkan Bapak nantinya mengunjungi situs http://blogdetik.com/ yang mempunyai keragaman informasi”.....”terima kasih nak, syukur Alhamdulillah, kita sambut kegembiraan ini dengan Do’a, semoga mereka dipanjangkan umur dan dilimpahkan rezeki yang luas agar bisa PLN melayani hak rakyat walaupun rakyat sekecilpun dimata mereka. Dan saya mempunyai ide untuk PLN, yaitu agar PLN bisa lebih terbuka dibanding yang terdahulu, agar masyarakat bisa lebih akrab dengan PLN”. Dan seperti inilah gambaran yang saya dapatkan dalam kehidupan masyarakat kita, setelah kita mendapatkan satu informasi mengenai butuhnya masyarakat kita terhadap penerangan dari PLN. Dan mudah-mudahan dengan Blog yang sederhana ini, menjadikan mata kita siap melihat bersihnya PLN dari benalu berupa calo dan terbukanya tangan kita menyambut mereka untuk memasang jaringan Listrik dirumah kita....PLN Bersih... PLN Terang, Masyarakat senang! Seperti Pesan mereka dibawah ini

Selasa, 18 Februari 2014

<p  style=" margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block;">   <a title="View Sejarah Berdirinya NATO on Scribd" href="http://id.scribd.com/doc/54781258/Sejarah-Berdirinya-NATO"  style="text-decoration: underline;" >Sejarah Berdirinya NATO</a> by <a title="View Chakra Pratama's profile on Scribd" href="http://www.scribd.com/chakra_pratama"  style="text-decoration: underline;" >Chakra Pratama</a></p><iframe class="scribd_iframe_embed" src="//www.scribd.com/embeds/54781258/content?start_page=1&view_mode=scroll&access_key=key-1c7j9agsz9wc4ogqpqf4&show_recommendations=true" data-auto-height="false" data-aspect-ratio="0.772727272727273" scrolling="no" id="doc_38332" width="100%" height="600" frameborder="0"></iframe>

Sabtu, 23 Juli 2011

Bersama Pohon Kubertasbih


Ada yang tertinggal saaat kumelangkah lebih jauh dari keinginanku
Satu jejak yang selama ini memberikanku.....
Suatu masa yang sulit untuk kuterjemahkan....
Mengapa hadir.....???

            Saatku dihadapkan pertanyaan yang sulit kujawab
            Atau masalah yang sulit untuk kupecahkan
Cinta.....!!!
Kata itu terpahat disela hati yang membias kebisuan malam
Sepi......!!!
Merangkai berjuta tanda tanya,,,masihkah ada asa...???

            Tuk mengitari museum hati yang megah ditinggal pemiliknya
            Tiada terawat, hingga menjanjikan puing yang harus disingkarkan.....

            Pernahkah ada yang menyentuhnya...???
            Sebuah cerita yang tersimpan dimata bocah umur dua tahunan......
            Berdiri dari kerapuhan saat kemanjaan jadi musuh utamanya......

            Dia yang asyik bermain diteriknya mentari atau
            Berlari mengejar sang bintang mengalahkan keangkuhan atau
            Kesombongan tempat ia berpijak ( bumi )

Namun keinginan itu terhempas derasnya arus keraguan dalam hatinya
Atau kencangnya kebodohan dalam nafasnya

            Dia masih berdiri......
            Mengaharap keajaiban dapat memapah dan menuntun hatinya
            Walaupun tempat itu tak pernah tergambar dalam angan dan mimpinya
















Haruskah binar matanya mengisyaratkan luka.............?????
Satu lagi pertanyaan yang tergores dalam hari-harinya yang penuh dengan keegoan..
Yang patahkan ranting dari tempat ia bernaung, istrihat dan bermimpi
Tentang kebisuan pasir putih dipantai dengan deburan ombak
Yang patahkan semangat tuk harungi samudra
Atau tentang kicauan burung yang mendorongku tuk bertasbih pada Sang Pencipta

            Kini ia harus berlari dan terus berlari........
            Meraih semua cinta, cita dan keinginan
            Berusaha mewujudkan yang pernah hadir dalam tidurnya
 









“Aku tak ingin terjatuh kali ini”
Cukuplah aku terjatuh saat kecilku
Saat kubelajar melangkah, saat kebelajar berlari dan
Saat kuberlari mengalahkan kemanjaan seusiaku.....hingga
Akhirnya aku bisa mengucap tasbih bersama alam disekitarku, bersama pohon atau
Bersama orang-orang yang aku cintai dan orang – orang uyang mencintai kebenaran dan ISLAM
 




 by. Alfinrah Syuhada........
  to.    Anak - anak ISLAM PALESTINA yang berlari mengalahkan kemanjaan seusianya